oleh

Nomophobia Si Gangguan Zaman Modern

-ARTIKEL, HEALTH-20271 views

 

Penulis : Zihan Fahira Mahasiswi Psikologi Universitas Syiah Kuala Aceh

Teknologi saat ini termasuk bagian penting dalam hidup manusia. Perkembangan teknologi yang semakin pesat membantu manusia mengerjakan berbagai aktivitas dengan mudah. Teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi, mengakses informasi, dan menyebabkan ketergantungan pada smartphone (Louragli, Ahami, Khadmaoul, Mammad, & Lamrani, 2018). Gezgin dan Cakir (2016) mengatakan smartphone saat ini tidak hanya digunakan untuk mengakses informasi, tetapi juga untuk mendengarkan musik, mengambil foto dan video, game, dan pendidikan. Berbagai fitur yang ditawarkan smartphone memberikan kenyamanan dan manfaat bagi pengguna dalam melakukan segala aktivitas.

Berbagai manfaat yang ditawarkan smartphone dan didukung dengan bentuk yang kecil dan mudah dibawa membuat manusia sulit berpisah dari smartphone. Saat ini ponsel atau smartphone telah populer di seluruh kalangan, mulai dari anak-anak hingga usia dewasa dan lansia. Pengguna ponsel meningkat sejak tahun 1990 mulai dari 12,4 juta menjadi tujuh miliar pada tahun 2014 dengan tingkat penetrasi 95% (Muralidhar, Sudarshan, Sanjay, Gopi, &  Fernandes, 2017). Rahmayani (2015) melalui website Kominfo menjelaskan bahwa Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pengguna aktif smartphone di Indonesia mencapai lebih dari 100 juta dari 250 juta jiwa jumlah keseluruhan. Jumlah yang hampir mencapai setengah dari penduduk dapat membuat Indonesia menjadi negara pengguna aktif smartphone keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

Gezgin dan Cakir (2016) mengungkapkan peningkatan pengguna smartphone dan internet dapat mengakibatkan peningkatan pada nomophobia. Nomophobia (no-mobile phone phobia) merupakan ketakutan yang muncul saat berada jauh dengan ponsel (Secur Envoy, 2012). Istilah nomophobia pertama kali diciptakan dalam penelitian UK (United Kingdom) Post Office pada tahun 2008 untuk menyelidiki kecemasan yang dialami oleh pengguna ponsel (Secur Envoy, 2012). King Valenca, Silva, Baczynski, Carvalho, dan Nardi (2013) mendefinisikan nomophobia sebagai ketakutan di dunia modern karena tidak dapat berkomunikasi melalui ponsel atau internet, dan merupakan berbagai perilaku yang berhubungan dengan penggunaan ponsel. Menurut Bragazzi dan Puente (2014) nomophobia mengarah pada ketidaknyamanan, kegelisahan, kegugupan, atau kesedihan yang muncul karena tidak terhubung dengan ponsel  atau komputer.

Sejalan dengan Bragazzi dan Puenette, Yildirim dan Correia (2015) menjelaskan nomophobia sebagai ketakutan karena tidak dapat menggunakan smartphone atau ponsel dan berbagai fitur yang ditawarkan. Ketakutan dan kecemasan yang dialami penderita nomophobia disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kehilangan atau berada jauh dari ponsel, kehilangan penerimaan, dan baterai ponsel yang sudah habis (Uysal, Özen, & Madenoğlu, 2016). Ciri-ciri penderita nomophobia, diantaranya merasa cemas dan takut berjauhan dengan ponsel, menggunakan ponsel secara teratur, cemas berinteraksi secara tatap muka, berada dekat dengan ponsel termasuk ketika tidur, memastikan ponsel selalu aktif dan mengecek pesan atau panggilan (Bragazzi & Puente, 2014). Yildirim dan Correia (2015) membuat alat ukur Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) berdasarkan empat dimensi nomophobia, yaitu not being able to communicate (ketidakmampuan untuk berkomunikasi), losing connectedness (kehilangan koneksi), not being able to access information (ketidakmampuan memperoleh informasi), dan giving up convenience (menyerah pada kemudahan). Empat klasifikasi tingkatan (taraf) nomophobia menurut Yildirim dan Correia (2015), yaitu taraf rendah, ringan, sedang, dan berat. Yildirim (2014) menyebutkan penderita nomophobia dengan istilah nomophobe atau nomophobic.

Istilah nomophobe digunakan sebagai kata benda yang mengarah pada penderita nomophobia, sedangkan nomophobic adalah kata sifat yang menggambarkan karakteristik dan perilaku yang berhubungan dengan nomophobia. Nomophobia menyebabkan penggunaan ponsel berlebihan sehingga menimbulkan dampak berupa kesepian, kecemasan sosial, dan hubungan interpersonal (Bian & Leung, 2015; Durak, 2018). Masalah lain yang akan muncul menurut George dan Odgers (2015) adalah dengan siapa pengguna smartphone berinteraksi secara online, cyberbullying, pengalaman hubungan secara tatap muka, kesenjangan digital antara orang tua dan anak, identitas, risiko kinerja kognitif, dan masalah tidur. Menurut Yildirim (2014) tingkat keparahan nomophobia dapat dikurangi dengan menggunakan obat dan terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dengan teknik Thought Stopping Therapy (TST). Teknik TST membantu penderita nomophobia untuk berhenti berpikir negatif tentang kecemasan dan ketakutan dan menggantikannya dengan pikiran positif. Hasil penelitian Aini, Retnaningsih, dan Trisnaja (2016) pada mahasiswa keperawatan di Widya Husada Semarang menunjukkan bahwa teknik TST efektif menurunkan tingkat nomophobia secara signifikan.

Penelitian nomophobia semakin berkembang dan banyak dilakukan. Awalnya penelitian nomophobia dilakukan oleh King dkk. (2010) dalam lingkup klinis yang mengambil aspek dari DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder). Seiring perkembangannya, nomophobia dikaji oleh Yildirim dan Correia (2015) berdasarkan gangguan yang muncul dalam tataran sosial dari sesuatu sederhana seperti media sosial, smartphone, dan alat komunikasi lainnya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed