oleh

Aceh Kehilangan Jati Diri?

“Ketika diplomasi berhenti,

ditulah perang akan dimulai”

Meminjam kalimat tersebut sangat cocok dengan konteks sekarang ini. Bagaimana tidak bahwa setiap persoalan membutuhkan seseorang yang bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Nah ini yang terkadang kita sebut orang ketiga atau istilah modern nya Negotiator.  Selain itu untuk memecahkan dan mencari solusi terhadap masalah yang di alami disebut diplomasi.

Di dunia Modern hampir setiap mahasiswa nya di latih dan di wajibkan untuk berkemampuan layaknya seseorang Diplomat, bahkan tak jarang hal tersebut menjadi PR khusus bagi negara-negara post-Mo.  Berbeda dengan negara berkembang yang masih belajar dalam semua hal, sehingga ada anekdot yang mengatakan bahwa “ Negara maju sudah berfikir bagaimana tinggal di bulan sedangkan negara berkembang bagaimana cara membuang sampah dengan benar”. Paradigma berfikir seperti ini membadingkan bagaimana perdaban cara berfikir setiap negara. Dalam konteks ini, penulis tidak menyalahkan siapapun, karena sadar bahwa kemajuan dan kemampuan itu berbanding lurus dengan apa yang di pikirkan.

Sekarang apa yang terjadi? kemuduran dan kemajuan telihat nyata saat negara berkembang dan negara maju berhadapan. Bukan maksud men- Justifikasi, tetapi lebih tepatnya tentang bagaimana meluruskan persoalan untuk kemudian bisa mendapatkan jalan keluar. Benar memang pemerintah harus bertangung jawab dalam melahirkan generasi unggul dalam setiap kelulusan, tapi adakah yang lulus itu berfikir demikian? kita bisa bisa selalu menyalahkann otoritas negara dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Indonesia bisa saja berbanga dengan raihan lembaga internasional, tetapi jangan lupa bahwa kita juga harus melahirkan Diplomat handal di setiap persoalan.

Aceh khususnya, wilayah yang pernah di landa konflik berkepanjangan. Bahwa kita harus mengakui negotiator hebat ikut andil dalam proses perdamaian. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah cukup demikan? atau jangan-jangan aceh sudah kehilangan rasa yang demikian? jawabannya penulis kembalikan kesetiap personal. Karena tidak mungkin kita menghakimi setiap personal dengan segala latar belakang. Ini lah yang harus di perbaiki oleh instansi pemerintaha Aceh untuk masa depan yang lebih cemerlang. Banyak persoalan yang akan datang baik  membahas pembangunan maupun program masa depan.

Apalagi tentang situasi dan kondisi di masa sekarang, apa yang sudah kita persiapkan untuk aceh yang akan datang? bagaimana kehidupan anak cucu di masa depan? itu semua kembali lagi apa yang  kita kerjakan.Pepatah mengatakan bahwa apa yang di semai, itu yang di tuai.  Hal ini lah penulis rasakan bahwa aceh belum melakukan gebrakan dalam mencari solusi terhadapan kesenjangan melalui diplomator handal. Boleh saja mengantung diri pada pemerintah pusat untuk segala hal, tapi inggat aceh boleh saja berharap burung terbang tinggi tapi mulai di tangan jangan di lepas (Ust.Zainuddin:2008). Artinya, aceh boleh saja berharap baik budinya pemerintah pusat, tap jangan pernah lupa bahwa aceh punya masa kelam dengan pemerintah jawakarta.

Selayaknya  dan sepatutnya aceh harus lebih mandiri dalam melihat politik jawakarta di era perdamaian ini. Penulis tidak mengatakan bahwa kita harus menjauh dari jakarta, tetapi aceh harus lebih tegas dalam menjamin atas nama masyarakat aceh. Negara maju mereka mereka berfokus bagaimana mensejahterakan warga negaranya bukan memberi kesenjangan pada masyarakatnya.

Ayok sama-sama dalam menuntaskan berbagai persoalan bukan untuk taraf kehidupan yang sejahtera. Sudah cukup menyalahkan orang lain atas apa yang kita kerjakan, zaman terus berkembang dan  terus berjalan. Aceh harus maju di berbagai bidang bukan terus menerus saling menyalahkan… Bangkitlah wahai anak muda,, masa depan ada di tangan kita.

Wasslam dari Gunong Tiro, Halimon

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed