oleh

Al-Farabi

 

Abu Nasr Muhammad bin Tarkham bin Unzalaqah atau lebih dikenal dengan Al-Farabi merupakan salah satu filsuf Islam yang menggali pemikiran filsuf Yunani.  Al-Farabi terdidik dengan sifat qana’ah sehingga menjadikannya sebagai orang yang sederhana, tidak gila harta dan terjebak pada keinginan duniawi. Al-Farabi lebih memfokuskan diri untuk mencurahkan perhatiannya pada pencarian ilmu ketimbang melibatkan diri untuk tujuan mencari kekayaan materi. Al-Farabi juga menguasai berbagai disiplin ilmu seperti matematika, kimia, astronomi, musik, ilmu alam, logika, filsafat, bahasa, dan lain-lainnya. Selain itu, al-Farabi menguasai 70 bahasa.

Al-Farabi adalah seorang filsuf Muslim yang memiliki kapasitas tangguh dalam menafsirkan pikiran-pikiran Yunani. Al-Farabi memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna, sehingga filsuf yang sesudahnya, seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd banyak mengambil dan mengupas sistem filsafatnya.

Pengetahuan al-Farabi yang mendalam mengenai filsafat Yunani, seperti Plato dan Aristoteles, membuat komunitas intelektual Muslim abad pertengahan dan bahkan mungkin pada periode modern menganggap al-Farabi sebagai al-Mu’allim al-Tsani (guru kedua) yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan filsafat Islam. Al-Farabi adalah filasuf islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan, dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik (Yunani) klasik dengan Islam, dan berupaya membuatnya lebih dimengerti.

Perspektif para filsuf Muslim, etika dalam Islam (al-akhlaq) disinggung dalam berbagai ruang dan perspektif. Al-Farabi menulis al-Madînah al-Fadhîlah dan Takhshîl al-Sa’âdah. Dengan dua karya tersebut, virtues (eudomonia) menjadi state of mind bagi umat manusia untuk melakukan tindakan kebaikan. Pada saat yang sama, usaha-usaha untuk membentuk jati diri individu dan masyarakat yang memiliki basis etika yang baik harus dijalankan oleh sistem sosial (pemerintah) yang juga baik.

Pemikiran Al-Farabi yang amat penting tentang politik adalah seperti yang dia tuangkan dalam karyanya, Ārā Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah (Pendapat- pendapat tentang Negara Utama). Yang paling penting dalam tubuh manusia adalah kepala, karena dari kepala lah (otak) segala perbuatan manusia dikendalikan, sedangkan untuk mengendalikan kerja otak dilakukan oleh hati, demikian juga dalam negara. Konsep pemerintahan menurut Al-Farabi yang amat penting adalah pimpinannya atau penguasanya, bersama-sama dengan bawahannya sebagaimana halnya jantung dan organ-organ tubuh yang lebih rendah secara berturut-turut. Al-Farabi mengajukan hal tersebut karena seorang pemimpin adalah bagaikan jantung dari tubuh seseorang. Apabila jantung tersebut rusak, maka tubuh pun akan rusak atau lemah. Menurut al-Farabi hal tersebut tidak diinginkan. Maka sebab itu beliau menyebutkan tentang kondisi idealnya seorang pemimpin.

Mengenai kepemimpinan, Al-Farabi amat menekankan kriteria pemimpin yang memiliki sifat nabi sekaligus failasuf. Hal ini dikarenakan bagi Al-Farabi, nabi merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan pemimpin. Maka dari itu, Al-Farabi menguraikan beberapa kriteria pemimpin yang sebenarnya merupakan rincian dari sifat-sifat kenabian sekaligus failasuf.

Pada masa pemerintahan Al-Farabi menerapkan pemimpin hanya satu orang saja dan sekaligus menjadi publik figur dan penggerak (otak) dari roda pemerintahan yang sedang berdiri.  Penguasa atau pemimpin ini haruslah orang yang paling unggul, baik, dan layak dalam bidang intelektual maupun moralnya di antara yang ada. Selain itu, pemimpin harus memiliki tujuan utama dari segala apa yang dilakukannya serta dapat memberi manfaat kepada diri dan para warganya dalam meraih kebahagiaan. Hal ini merupakan tugasnya sebagai pemimpin. Untuk itu pimpinan harus orang yang paling sejahtera di antara yang lain karena dia akan menjadi sebab kesejahteraan para warga negara.

Pemerintahan Al-Farabi jarang terjadinya korupsi di lingkungan pemerintah, karena pemilihan pemimpin mempunyai kriteria khusus, seperti harus mempunyai kecenderungan untuk tidak peduli pada hal-hal yang bersifat materi. Artinya, dia sudah sampai pada tingkatan akal mustafād yang mampu berkomunikasi dengan akal aktif, sedangkan yang lainnya tidak demikian. Dia fokus pada satu tujuan utama, yaitu mengabdi kepada Sebab Pertama(Tuhan), tunduk kepada-Nya dan mencukupkan diri hidup untuk-Nya.

Al Farabi sangat memperhatikan masyarakatnya dalam membangun kota. Masyarakat dibagi menjadi dua bagian, masyarakat sempurna, dan masyarakat tidak sempurna. Masyarakat sempurna adalah masyarakat kelompok besar, bisa berbentuk masyarakat kota, ataupun masyarakat yang terdiri dari beberapa bangsa yang bersatu dan bekerja sama secara internasional. Masyarakat tidak sempurna adalah kesatuan terkecil dari suatu kelompok masyarakat, seperti rumah tangga dan desa.

Pada masa pemerintahan Al-Farabi menerapkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan tidak dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan hidup rukun. Setiap orang dalam masyarakat kota harus menyadari perlunya kerjasama dan koordinasi yang teratur. Jika anggota masyarakat mempunyai kompetensi yang bermacam-macam, maka mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Seluruh penduduk saling bekerja sama, bahu-membahu, dan gotong royong. Tiap warga bagaikan satu bagian tubuh. Apabila satu terluka, maka sakitnya dirasakan seluruh badan, yakni seluruh elemen negara. Mulai dari pucuk pemerintah hingga rakyat.

 

Tiap bagian pemerintahan memiliki fungsi yang berlainan. Tugas seorang pemimpin tak mungkin sama dengan rakyat biasa. Begitu pula kewajiban rakyat tak melulu dibebankan kepada pemerintah. Namun, perbedaan tak menjadi halangan bagi terwujudnya saling bekerja sama antar warga negara. Kolaborasi inilah yang membuat roda pemerintahan pada masa itu berjalan dengan baik.

Dari kisah Al-Farabi di atas banyak sekali ilmu yang berhubungan dengan etika yang bisa kita dapatkan dan bisa menjadi bahan pembelajaran. Menurut saya, ada beberapa sikap dan pendapat dari Al-Farabi ini bisa kita contohkan dalam ber etika di pemerintahan, yaitu:

Pertama, Pemikiran Al-Farabi yang amat penting tentang politik adalah seperti yang dia tuangkan dalam karyanya, Ārā Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah (Pendapat- pendapat tentang Negara Utama). Yang paling penting dalam tubuh manusia adalah kepala, karena dari kepala lah (otak) segala perbuatan manusia dikendalikan, sedangkan untuk mengendalikan kerja otak dilakukan oleh hati, demikian juga dalam negara. Konsep pemerintahan menurut Al-Farabi yang amat penting adalah pimpinannya atau penguasanya, bersama-sama dengan bawahannya sebagaimana halnya jantung dan organ-organ tubuh yang lebih rendah secara berturut-turut. Al-Farabi mengajukan hal tersebut karena seorang pemimpin adalah bagaikan jantung dari tubuh seseorang. Apabila jantung tersebut rusak, maka tubuh pun akan rusak atau lemah. Menurut al-Farabi hal tersebut tidak diinginkan. Maka sebab itu beliau menyebutkan tentang kondisi idealnya seorang pemimpin.

Dari pemikiran diatas dapat kita petik satu pelajaran yaitu dalam menjalankan suatu roda pemerintahan seorang pemimpin adalah kunci dari segala hal yang terjadi di dalam roda pemerintahan tersebut atau bisa di bilang seorang pemimpin ini seperti jantung manusia yang kita ketahui bahwa jantung memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia. Jika jantung tersebut rusak maka anggota tubuh yang lainnya pun akan ikut rusak atau menjadi lemah. Oleh karena itu dalam menjalankan roda pemerintahan di butuhkannya seorang pemimpin yang layak, jika pemimpin yang telah terpilih tidak memiliki kelayakan hal tersebut akan mempengaruhi  bawahannya dan bahkan mempengaruhi pemerintahan yang sedang di jalankan karena seorang pemimpin ini adalah kunci atau jantung dari keberhasilan suatu roda pemerintahan.

Kedua, Menurut Al-Farabi jika kita ingin memilih seorang pemimpin atau penguasa terlebih dahulu kita harus melihat etikanya, karena menurut Al-Farabi seorang yang akan menjadi pemimpin atau penguasa harus lah orang yang paling unggul, baik, dan layak dalam bidang intelektual, etika, maupun moralnya di antara yang lain. Selain itu menurut Al-Farabi seorang pemimpin harus memiliki tujuan utama dari segala apa yang dilakukannya serta dapat memberi manfaat kepada diri dan para warganya dalam meraih kebahagiaan. Hal ini merupakan tugasnya sebagai pemimpin. Untuk itu pimpinan harus orang yang paling sejahtera di antara yang lain karena dia akan menjadi sebab kesejahteraan para warga negara.

Menurut saya, jika kita mengikuti apa yang di katakan oleh Al-Farabi ini insyaallah tidak akan terjadi kecurangan di roda pemerintahan kita, seperti terjadinya korupsi. Seperti kita ketahui bahwa korupsi ini di lakukan oleh para orang-orang yang duduk di roda pemerintahan kita. Dengan di terapkan standar atau kriteria menjadi seorang pemimpin maka akan jarang dan bahkan tidak ada terjadinya kecurangan dalam roda pemerintahan. Karena sudah terbukti pada zaman Al-Farabi, pada zaman Al-Farabi jarang terjadinya korupsi di lingkungan pemerintah, karena pemilihan pemimpin mempunyai kriteria khusus, seperti harus mempunyai kecenderungan untuk tidak peduli pada hal-hal yang bersifat materi. Artinya, dia sudah sampai pada tingkatan akal mustafād yang mampu berkomunikasi dengan akal aktif, sedangkan yang lainnya tidak demikian.

 

Referensi :

 

 

Nama : Habibur Rachman

MK : Etika Pemerintahan

Universitas : Universitas Syiah Kuala

Fakultas : Ilmu Sosial Dan Ilmu Poltik

Jurusan : Ilmu Pemerintahan

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed