oleh

Etika Kepemimpinan Umat Islam Ali Bin Abi Thalib

 

 

Umi Tilawa

Fakultas ilmu social dan politik universitas syiah kuala

Kemandirian adalah alat retorik untuk legitimasi profesi akuntansi. Profesi akan selalu berusaha untuk mempertahankan posisinya di masyarakat, Kemandirian dianggap sebagai sarana retorik profesi akuntan, sehingga masyarakat akan percaya pada peran dan profesionalisme profesinya. Dalam hal ini Konsep kemandirian bukanlah konsep yang didirikan semata-mata untuk layanan profesional masyarakat luas atau masyarakat, tetapi kebutuhan orang tertentu (seperti kreditor, investor dan auditor itu sendiri) untuk melindungi kepentingan ekonominya. Indonesia merupakan negara dengan Islam sebagai agama utamanya dan tentunya memiliki budaya Islam. Islam berkeyakinan bahwa bisnis bukan hanya urusan sekuler, tapi juga urusan ukhrawi. Oleh karena itu, dalam proses pelaksanaannya sangat mementingkan etika dan sosial. Demikian pula dalam perspektif Islam, audit tidak hanya berfokus pada pemeriksaan laporan keuangan, tetapi juga pada kehidupan masyarakat. Keyakinan terkait. Mengacu pada argumen di atas, audit dan institusi yang bersumber dari sistem kapitalis belum cukup untuk dilaksanakan di Indonesia. Kemandirian adalah masalah etika utama dalam audit dan harus dibangun kembali agar sesuai dengan ajaran Islam.  Kemerdekaan harus tunduk pada kehendak Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam doktrin agama. Kemandirian tidak lagi hanya menjadi syarat etika profesi Bertanggung jawab kepada masyarakat, namun independensi juga merupakan persyaratan hukum syariah agar auditor dapat menjalankan tugasnya secara profesional. Kemandirian doktrin agama akan menyebabkan makna berubah dari semula material menjadi apriori. Metafora tersebut adalah nama atau riwayat hidup seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, namanya Umar bin Khattab. Setelah waktu Tabi’ut Tabi’in. (Bukhari dan Muslim).  Dia memilih hidupnya secara khusus karena, menurut penulis, itu mencerminkan model kemandirian yang kuat dan sesuai dengan ajaran Islam. Beberapa cerita dan kutipan Umar di masa lalu akan diartikan mengadopsi nilai yang terkandung di dalamnya. Segmen cerita sejarah memuat gambaran tentang peran Umar yang terkait dengan status auditor saat ini. Dalam cerita kita melihat Umar tangguh dan teguh. Tapi semua karena keyakinannya.

Namun sebenarnya yang diinginkan Umar adalah untuk kebaikan, agar masyarakat tidak mau melanggar urusan agama dan hubungan sosial. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Umatku yang paling sayang kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam suatu hal (agama) adalah Umar,…”

Ini menunjukkan bahwa sifat keras Umar diakui Rasululah sendiri. Bahkan Rasulullah menginginkan Umar masuk Islam dan menjadi bagian barisan orang Islam (Ash-Shalabi, 2013: 23). Karena Rasul Allah mengetahui bahwa karakter Umar akan membuat orang-orang kafir enggan, maka sifat tegas itu ditujukan untuk mempertahankan agama, bukan untuk tujuan buruk. Kemudian, di samping sifat kerasnya, dia juga melihat nilai-nilai ketuhanan dalam perannya sebagai Mutasib. Saat harus mengingatkan oknum pelaku pasar, Umar mengingatkannya pada keimanan. Umar berkata: “Allah telah mendatangkan masalah bagi pengusaha ini. Pedagang, sebenarnya perdagangan dilakukan karena iman, jadi gabungkan dengan sedekah. Mengetahui bahwa setiap sumpah pembohong akan mengambil berkah.” Kata-kata ini dengan jelas menunjukkan bahwa pekerjaan harus didasarkan pada iman. Karena kepercayaan Umar (Umar) menjadi pengendali utama pekerjaan pribadi. Menurut Umar, seseorang harus selalu melihat ke dalam diri satu sama lain untuk introspeksi. Introspeksi dan lihat kelemahan dan kekurangan Anda. Umar memiliki hal-hal yang baik (Ibn Kathir, 2002: 178): ”Hisablah diri kamu sekalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sendiri sebelum ditimbang dan hiasilah dirimu (dengan amal sholeh) untuk hari kiamat, dimana amal perbuatan kalian diperlihatkan tidak ada apapun yang tersembunyi.”

Pemantauan ini bergantung pada kejujuran pada diri sendiri. Fakta membuktikan bahwa prinsip penilaian diri Umar adalah metode terpenting dalam Islam. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr:18)

Ayat ini menjadi menjadi penguat dari perkataan Umar di atas bahwa setiap manusia hendaknya melihat diri sendiri dulu agar bisa selamat di dunia dan di akherat. Umar mempunyai 2 ciri khas tersebut membuat Umar menjadi seorang sosok muhtasib yang disegani. Keseganan akan sifat Umar tersebut membuat perlikau menyimpang dan tidak sesuai norma bisa dikurangi.  Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang Umar pribadi yang sederhana meski sebagai seorang khalifah besar Islam. Perlu diketahui bahwa wilayah Islam dibawah kepemimpinan Umar mengalahkan dua kerajaan besar yaitu Romawi Timur dan Persia, menaklukan Mesir, membangun kota-kota baru dan lain sebagainya.

Dampak dari nilai-nilai ketuhanan ini begitu positif terhadap independensi Umar. seperti kebanyakan orang, gemerlap dunia tidak mempesona Umar. Di tempat-tempat di mana kita sering melihat pemimpin, yang terjadi adalah kesempatan untuk mengolah properti. Umar memilih hidup sederhana. Kemampuan Umar untuk hidup memungkinkannya untuk tetap mandiri. Apalagi kesederhanaan ini didukung oleh karakter kuat dirinya dan keluarga Umar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed