oleh

Ibadah Sebagai Penawar Prokrastinasi pada Agen Of Change

ilustrasi

Penulis : Sarah Sililya Az Badal, Mahasiswi Semester 6 Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

            Mahasiswa adalah Agen of Change (agen perubahan) yang diharapkan mumpuni dalam memajukan bangsa karena mempunyai andil besar di kehidupan masyarakat. Modal utama dalam mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik adalah dengan terlebih dahulu mendapatkan prestasi semaksimal mungkin. Dalam mencapai prestasi, nilai-nilai digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan mahasiswa, terlebih di bidang akademik yang disebut sebagai nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).

Menurut Solomon dan Rothblum (2005) tugas adalah suatu hal yang tidak lepas dari mahasiswa. Baik merupakan tugas yang dikatakan mudah, maupun tugas yang terbilang sulit, semuanya harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya agar memperoleh nilai yang memuaskan untuk menunjang tingginya nilai IPK ditiap semester. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, banyak mahasiswa melalaikan tugasnya dan kemudian beralih ke kegiatan lain. Kegiatan lain yang dipilih mahasiswa dirasa lebih menyenangkan sehingga mereka berani melakukan penundaan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang ada. Hal ini dikenal dengan prokrastinasi. Prokrastinasi dalam bahasa Inggris disebut procrastination berarti “to avoid startingan activity without any reason” (Hornby dan Ruse, 1990).

Prokrastinasi merupakan penundaan menyelesaikan tugas dengan cara melakukan penghindaran tugas ke kegiatan lainnya yang dianggap lebih menyenangkan. Prokrastinasi terjadi perasaan tidak senang terhadap tugas maupun ketakutan menghadapi kegagalan saat menyelesaikan tugas. Menurut Soloman dan Rothblum (2005) mengatakan bahwa jenis tugas yang menjadi objek prokrastinasi akademik adalah penundaan tugas menulis, seperti menulis makalah, laporan atau mengarang. Prokrastinasi pada tugas membaca, belajar untuk menghadapi ujian. Prokrastinasi saat menghadiri pembelajaran, praktikum, dan pertemuan-pertemuan lainnya yang disebut sebagai prokrastinasi akademik.

Menurut Ferrari (dalam Ghufron, 2003) definisi prokrastinasi dapat dipandang dari berbagai batasan tertentu, yaitu: 1) prokrastinasi hanya sebagai perilaku penundaan, yaitu bahwa setiap perbuatan untuk menunda dalam mengerjakan suatu tugas disebut sebagai prokrastinasi, tanpa mempermasalahkan tujuan serta alasan penundaan yang dilakukan; 2) prokrastinasi sebagai suatu kebiasaan atau pola perilaku yang dimiliki individu, mengarah kepada trait, penundaan yang dilakukan sudah merupakan respon tetap yang selalu dilakukan seseorang dalam menghadapi tugas, biasanya disertai oleh adanya keyakinan-keyakinan yang irasional; 3) prokrastinasi sebagai suatu trait kepribadian, tidak hanya suatu perilaku penundaan saja, akan tetapi merupakan suatu trait yang melibatkan komponen-komponen perilaku maupun struktur mental lain yang saling terkait dan dapat diketahui secara langsung ataupun tidak langsung.

Prokrastinasi akademik adalah menunda-nunda pekerjaan atau mengerjakan tugas di bidang akademis. Rizvi dkk (1997) melakukan penelitian mengenai prokrastinasi akademik ditinjau dari pusat kendali dan efikasi diri pada 111 Mahasiswa Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang menunjukkan hasil 20,38% mahasiswa telah melakukan prokrastinasi akademik dan terdapat hubungan positif antara prokrastinasi akademik dengan pusat kendali eksternal. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini oleh Basri (2017) mengenai bagaimana prokrastinasi akademik pada mahasiswa ditinjau dari religiusitas menunjukkan hasil angka 36.486, yaitu terdapat korelasi negatif antara religiusitas dan prokrastinasi akademik yang dilakukan mahasiswa.

Dari kedua penelitian tersebut, disimpulkan bahwa dengan melakukan prokrastinasi, kecenderungan menunda memulai menyelesaikan tugas dengan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang tidak berguna namun disenangi, berhubungan langsung dengan pusat kendali dan efikasi diri seseorang, dan berhubungan langsung dengan religiusitas orang tersebut. Hal ini membuat penyelesaian tugas menjadi terhambat, tidak selesai tepat waktu, dan sering terlambat. Prokrastinasi akademik menyebabkan stres dan memberikan pengaruh yang tidak baik pada fungsi psikologis individu karena banyak membuang waktu tanpa menghasilkan sesuatu yang berguna untuknya.

Individu akan mengalami tekanan ketika akan berhadapan dengan deadline tugas, sehingga individu akan mengalami stres. Perilaku prokrastinasi merugikan diri sendiri dan juga orang lain di sekitarnya. Menurut Burka & Yuen (2008) mengatakan bahwa prokrastinasi mengganggu dalam dua hal, yaitu: 1) perilaku penundaan atau prokrastinasi dapat menciptakan masalah eksternal, seperti penundaan tugas lainnya dan terlambat mengumpulkannya; 2) mendatangkan masalah internal, pelaku prokrastinasi dapat mendapat teguran dari atau bahkan pengurangan nilai dari pihak pemberi tugas sebagai suatu bentuk punishment yang akan menimbulkan perasaan bersalah, kecewa, dan menyesal.

Oleh sebab itu, salah satu hal yang dianggap dapat mengendalikan dan menjadi solusi bagi perilaku menunda-nunda tugas adalah rasa keberagamaan individu. Agama bisa meningkatkan moral sense serta berfungsi sebagai pengarah dalam kehidupan dan mempengaruhi perilakunya (Rahmat, 2010). Melalui pendekatan agama ini diharapkan mahasiswa sebagai Agen of Change dapat diarahkan dalam perilaku menunda-nunda tugas sehingga mampu menyelesaikan studi tepat waktu dengan tuntutan sukses akan mengiringi langkah mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademiknya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed