oleh

Ketika Rasa Tak Sekedar Asa, Terimakasih Aceh!

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

94 pengungsi Rohingya yang belum jelas arahnya dari Bangladesh atau dari Rakhine, Myanmar terombang-ambing di lautan lepas. Awalnya mereka ditolak untuk merapat ke perairan Aceh oleh petugas yang mewakili pemerintah, namun penduduk setempat terlihat memaksa untuk membawa mereka ke daratan melihat penderitaan pengungsi di atas kapal. Mereka kehausan, kelaparan dan butuh pertolongan. “Biar kami yang menjemputnya, kami juga yang akan memberikan mereka makanan..” ujar seorang penduduk dengan nada kekesalan pada salah satu aparat yang melarang pengungsi Rohingya merapat ke daratan (portalislam.co.id, 27/6/2020).

Lagi dan lagi saudara seakidah mengalami kezaliman yang luar biasa. Nyeri dada merasakannya. Wahai saudarku, maafkan kami, yang hingga hari ini hanya mampu bersaksi dengan tulisan untuk menggambarkan penderitaanmu. Masalah Rohingya , belum tuntas hingga hari ini. Mereka masih mengalami banyak penderitaan yang mungkin tak kan sanggup kita tanggung.

Sesungguhnya masalah saudara muslim yang teraniaya dimanapun mereka berada adalah juga masalah bagi  kaum muslimin yang ada di dunia. Mengapa tak kunjung selesai? sebab para pemimpin negeri-negeri Muslim sekalipun mereka Muslim tapi banyak yang lebih nyaman sembunyi dibalik alibi negara bangsa alias Nation State. Beda negara beda urusan.

Semua berawal dari Perjanjian Sykes-Picot yaitu kesepakatan rahasia antara Inggris dan Prancis mengenai pembagian wilayah Utsmani di Timur Tengah. Perjanjian itu dirumuskan oleh François Georges-Picot mewakili  Prancis dan Mark Sykes mewakili Inggris. Perjanjian tersebut diresmikan pada bulan Mei 1916 atau pada puncak Perang Dunia I. Kesepakatan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Sekutu akan memenangkan perang dan sebagai hasilnya Kekhilafahan  Utsmani yang berpihak pada Jerman akan dibagi-bagi oleh Sekutu. Wilayah-wilayah yang awalnya dibawah kekuasaan Islam dipecah belah dan diberi kemerdekaan sendiri serta berhak memerintah pemerintahannya sendiri dibawah kontrol sekutu atau Inggris ketika itu.

Faktanya, dengan adanya Nation State kekuasaan kaum muslim dipecah belah, sumber daya alamnya di jarah, penduduknya di bunuh atau dimiskinkan. Dan ditumbuhkan rasa asing bin individualis kepada setiap jiwa kaum Muslim, sehingga tak ada belas kasih ataupun empati ketika melihat penderitaan sesama saudara seakidah. Aceh, menunjukkan berkali-kali bagaimana perasaan ( masyair) yang terpancar dari akidah yang benar mampu mengalahkan batasan-batasan yang dibuat manusia. Dan siapa yang bakal membantah jika ini bisa dibilang Pancasialis sejati, seluruh sila diamalkan tanpa pamrih.

Janganlah teriak atas nama agama, mungkin tak setiap orang faham agama, tapi bagaimana dengan mereka yang mengaku dalam dadanya ada jiwa Pancasila? Tak ada pergerakan sama sekali, mereka sibuk memeras lima sila menjadi tri sila bahkan hingga Eka sila, demi apa? Bukan demi rakyat apalagi mereka yang terlunta-lunta berbulan-bulan di laut menanti suaka. Jelas untuk kepentingan perut mereka sendiri dengan menggunakan Pancasila sebagai tameng.

PBB sebagai manifestasi perhimpunan bangsa-bangsa di duniapun tak berarti banyak, sebab keanggotan PBB , dalam hal ini Amerika memiliki hak veto mengatur dunia termasuk menciptakan  krisis di dunia. Mengharap kepedulian para pemimpin kaum muslim adalah kesia-siaan. Mereka terkooptasi oleh sistem pemerintahan kufur buatan kafir penjajah, yang tunduk patuh pada Amerika sebagai negara ula.

Politik luar negri Indonesia , bebas aktifpun tak bertaji. Lagi-lagi terkalahkan dengan urusan perut korporasi, sebab untuk negara sendiri saja tidak berlaku, ramah hanya kepada investor dan TKA asal China. Seluruh kaum muslim akan berdosa jika ada muslim yang lain masih teraniaya dan belum mendapatkan keadilan. Sebab , Rasulullah mensifati kaum muslim sebagai satu tubuh. Jika tangan sakit maka seluruh badan ikut merasakan demamnya. Sebab kepala tak lebih penting dari tangan atau kaki.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam  bersabda  : “Barangsiapa yg bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya  sehingga seolah olah dia tidak melihat hak Allah padanya, maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam dirinya :  Kebingungan yg tiada putusnya. Kesibukan yg tidak ada ujungnya.  Kebutuhan yang tidak terpenuhi  dan   keinginan yg tidak tercapai”. (H.R  ath Thabrani).

Inilah yang hari ini terjadi, kaum Muslim disibukkan oleh urusan dunia, yang padahal dunia itupun kini di kuasai oleh orang-orang yang benci Islam. Mengapa terjadi? Sebab kini kaum Muslim tak memilik pemimpin yang peduli dan mengurusi umat berdasar sistem yang benar, yang berasal dari Allah, pencita manusia.

Kita bisa melihat keteladanan seorang Abdul Majid, Khalifah Turki Ustmani. Beliau pernah memberikan pertolongan kepada rakyat Irlandia, yang saat itu sedang  terjadi kelaparan masal pada tahun 1945-1852, sekitar abad ke 19. Saat itu selama 7 tahun berturut-turut penyakit menyerang tanaman kentang di negara itu. Padahal, kentang adalah makanan pokok di Irlandia. Menurunnya hasil panen yang buruk menyebabkan kelaparan massal, penyakit, dan kematian hampir satu juta orang. Ini adalah peristiwa paling mematikan di negeri paling barat Eropa ini.

Saat itu di tahun 1845 Sultan Abdul Majid berusia 23 tahun. Pada usia yang masih terbilang muda, sultan mampu mencari rute terbaik dari Istanbul mencapai negara Irlandia. Untuk menuju Negara Irlandia Sultan memutuskan untuk mengambil perjalanan melalui laut. Dari Istanbul melewati laut yunani, lalu melawati sepanjang laut Mediterania hingga spanyol, dan kemudian memasuki laut Atlantik. Hingga akhirnya rombongan sang Sultan tiba di pelabuhan Drogheda Irlandia pada tahun 1845.

Kala itu Sultan bermaksud memberikan bantuan sebesar £ 10.000 (saat ini kira-kira setara dengan £ 800.000), tapi mengingat ratu Victoria hanya memberikan bantuan kepada rakyat Irlandia sebesar £ 2.000, maka para duta besar Inggris mengingatkan Sultan Abdul Majid untuk memberikan bantuan hanya setengah dari yang diberikan sang ratu. Hal itu dilakukan agar tidak menyinggung perasaan banyak pihak. Sultan pun menyetujui hal tersebut. Tapi secara diam-diam beliau mengirimkan lima kapal yang sarat dengan makanan ke pelabuhan Drogheda pada bulan Mei  1847. Tentu saja ini disambut dengan baik oleh rakyat Irlandia.

Inilah tanda cinta sang Khilafah Abdul Majid kepada rakyat Irlandia. Meskipun Irlandia bukan masuk dalam wilayah Daulah, bahkan sebagian besar dari mereka adalah pemeluk Kristen ortodoks, tetapi bantuan kemanusiaan sang Khalifah tidak main-main jumlahnya. Disaat negara-negara terdekatnya enggan memberikan bantuan, Sultan Abdul Majid rela menempuh perjalanan sepanjang 6000Km, demi menyelamatkan rakyat Irlandia dari bencana kelaparan (muslimahtimes.com,25/6/2020).

Maka tak mungkin tidak, kaum Muslim harus memiliki pemimpin yang berkomitmen menerapkan Islam Kaffah, agar tak ada kezaliman bagi Muslim sedunia. Dan agar rasa tak sekedar menjadi asa, Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian “.(TQS al-Maidah [5]: 3). Inilah jaminan Allah SWT dan adakah janji Allah satu saja yang diingkari?

Kemenangan bagi kaum Muslim adalah janji Allah, Maka yang menjadi perhatian kita adalah seberapa besar kontribusi kita terhadap perjuangan umat mendapatkan keadilan. Yaitu hanya dengan Islam, kezaliman bisa dihentikan. Ini sekaligus bagian dari konsekwensi akidah yang kita beriman dengannya. Bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhamad  urusan Allah adalah menjadikan Islam terterapkan secara praktis. Menggantikan ide Nation State yang tidak sesuai fitrah manusia. Wallahu a’ lam bish showab.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed