oleh

Masyarakat Aceh Tidak Boleh Lupa Sejarah Aceh

 

Penulis : Siti Suharni, Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Dakwah, UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Aceh adalah salah satu provinsi yang terletak di ujung Indonesian yang banyak menyimpan sejarah muali dari kerajaan,konflik dan tsunami Aceh.

Begitu lama sudah Aceh merdeka dan sudah banyak jugak masyarakat Aceh yang lupa sejarah.

Ini tidak bisa kita biarkan terjadi karena ini tanah kita sendiri dari sejarah itulah kita bisa belajar sehingga kita bisa seperti saat ini yang aman dan damai.

Dimana sejarah ini sudah banyak memakan korban rakyat Aceh yang dulu banyak penduduk sekarang tinggal beberapa ratus ribu lagi.

Sayang jika kita lupa sejarah Aceh karna acehlah yang dikenal kaya dengan sejarah
Dan tidak semua rakyat Aceh juga yang tau tempat tempat yang bersejarah di Aceh mulai dari Sabang sampai Aceh tenggara yang mempunyai ratusan sejarah.

Kerajaan Aceh berdiri bersamaan dengan penobatan Sultan Pertamanya, Sultan Ali Mughayat Syah. Penobatan tersebut terjadi pada hari Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H.

Kerajaan ini memiliki ibu kota Bandar Aceh Darussalam.

Ada catatan yang menyebutkan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam ini didirikan untuk melanjutkan kekuasaan dari Samudera Pasai.

Pada masa Kerajaan ini, sektor politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan mengalami perkembangan pesat.

Konflik Aceh – Setelah Perang Dingin kita banyak menyaksikan berbagai konflik yang terjadi di dalam sebuah Negara, seperti halnya pada Yugolslavia, Kroasia, Macedonia, Bosnia dan Indonesia.

Konflik yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah konflik Aceh dimana dalam konflik tersebut telah memakan banyak korban, baik korban jiwa maupun korban materi.

Konflik atau Pemberontakan di Aceh antara tahun 1976 hingga tahun 2005 dikobarkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hal tersebut untuk mendapatkan kemerdekaan dari Indonesia.

Gerakan Aceh Merdeka atau yang sering disebut dengan GAM, merupakan organisasi separatisme yang telah berdiri di Aceh sejak tahun 1976.

Tujuan didirikannya GAM adalah untuk mengupayakan Aceh dapat lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan membuat negara kesatuan sendiri.

Pada 26 Desember 2004 silam, gelombang air laut besar yang dipicu gempa bumi menghantam wilayah-wilayah garis pantai Somalia hingga Asia Tenggara.

Wilayah paling terdampak adalah Aceh, Indonesia.
Gempa berkekuatan 9,3 Skala Ritcher (SR) terjadi pukul 8 pagi. Kekuatan gempa kala itu merupakan terbesar kedua dalam sejarah 40 tahun terakhir.

Gempa memicu tsunami mematikan yang dalam perkiraan akhir telah menewaskan sekitar 230 ribu orang dan meluluhlantakkan garis pantai dari Somalia di pantai Afrika timur ke Sumatra di Asia Tenggara.

Sebagian besar gempa bumi berlangsung hanya beberapa detik, namun dilaporkan bahwa gempa Sumatra-Andaman berlangsung selama sepuluh menit.

Episentrum gempa bumi berada di 100 mil sebelah barat Sumatra, di ujung barat Indonesia yang memiliki rangkaian gunung api dikenal sebagai “Cincin Api”.

Indonesia telah menjadi negara bagi lebih dari 80 persen gempa bumi terbesar di dunia. Sejak 1900, ketika pengukuran yang akurat mulai dilakukan, hanya tiga atau empat gempa bumi yang menyaingi Sumatra-Andaman.

Diperkirakan gempa kala itu menyebabkan dasar laut Samudra Hindia naik hampir 10 kaki dan menyebabkan tujuh mil kubik air naik.

Tsunami menghantam dengan gelombang hingga 100 kaki di pantai Samudera Hindia, menghantam Somalia, Indonesia, Sumatra, Sri Lanka, India selatan, dan Thailand, dan membanjiri sejumlah pulau, termasuk Maladewa.

Di perairan dalam, gelombang tsunami nyaris tidak terlihat dan sebagian besar tidak berbahaya. Namun di perairan dangkal dekat garis pantai, tsunami melambat dan membentuk gelombang destruktif besar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed