oleh

Melalui Program “MERDEKA BELAJAR” Menteri Pendidikan Siap Hapus Ujian Nasional

Ilustrasi sebelum UN (sumber : www.lesprivatlge.com)

Oleh: M.Agung Sabdillah

*Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah & komunikasi, UIN Ar-Raniry,NIM :190405081

Wacana dihapus nya ujian nasional kembali menjadi topik hangat sekaligus angin segar di sebagian besar telinga para pelajar. Sosok yang memunculkan wacana tersebut adalah menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia. Nadiem Makarim.melalui tema Merdeka Belajar, nadiem berencana untuk menghapuskan ujian nasional mulai dari SMP hingga SMA.

Dibutuhkan atau tidak nya ujian nasional sampai sekarang masih menjadi perdebatan panjang. Ada yang berpendapat ujian nasional masih dibutuhkan sebagai parameter kelulusan seorang siswa. Namun tak sedikit pula yang merasa bahwa ujian nasional merupakan hal yang tidak dibutuhkan lagi dalam sistem pendidikan indonesia.

Sebelumnya, ujian nasional memang dijadikan parameter kelulusan sebuah siswa, jadi semua sekolah di indonesia, baik itu negeri maupun swasta harus mengikuti standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Seiring berjalan nya waktu, ujian nasional tidak lagi dijadikan sebagai penentu sebuah kelulusan. Ini terjadi karena ada banyak nya desakan dari berbagai pihak yang menggangap bahwa semua sekolah tak bisa disamakan standar penilaiannya. Meski begitu ujian nasional tetap berlanju di setiap tahun nya.

Kini, Nadiem Makarim yang ditunjuk oleh presiden Joko Widodo sebagai Mendikbud berencana untuk benar-benar mengapus ujian nasional dimulai tahun 2021. Nadiem juga menegaskan jika tahun 2020 merupakan pelaksanaan UN untuk terakhir kalinya.

“Penyelenggaraan UN tahun 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter,” ujar Nadiem seperti dikutip dari Kompas.

Merdeka belajar adalah bentuk kebebasan siswa untuk berekspresi selama menempuh proses pembelajaran di sekolah. Bebas dari segala bentuk tekanan psikologis yang berbau SARA. Anak didik harus bebas berekspresi, namun tetap harus patuh pada aturan sekolah dan kurikulum negara. Dan tetap bertoleransi dalam menjalankan kebebasannya, karena ada  siswa lain yang mempunyai hak yang sama dalam kebebasa  berekspresi.

Guru juga harus diberi ruang kebebasan agar bisa maksimal mengajarnya. Namun guru harus tetap patuh pada kurikulum dan hukum negara.

Melalui hal itu, guru dan sekolah lebih merdeka dalam penilaian hasil belajar siswa. Untuk anggaran USBN sendiri dapat dialihkan untuk mengembangkan kapasitas guru dan sekolah, guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

Nadiem akan mengubah UN menjadi Asesmen kompetensi minimum dan survei karatker. Tujuannya sekolah bisa menentukan sendiri standar penilaian kepada siswa-siswinya.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sinergi memang sangat dibutuhkan. Nadiem pun berharap pemerintah daerah dan pusat dapat bergerak bersama dalam memeratakan akses dan kualitas pendidikan.

Meski belum direalisasikan sepenuhnya, rencana Mendikbud baru ini menuai banyak tanggapan. Salah satunya dari Muhammad Rizky. Siswa SMA 5 Banda Aceh tersebut setuju dengan rencana penghapusan UN oleh Nadiem Makarim.

Rizky menjelaskan jika selama ini UN menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Sudah saatnya menghapus sistem UN agar siswa terbebas dari berbagai tekanan psikologis.

“Saya sangat setuju dengan penghapusan UN. Biar kita sebagai siswa bisa belajar dengan lebih tenang dan bebas berekspresi serta tidak terbebani dengan standar penilaian dari ujian UN,” ujar Rizky.

Akan tetapi tidak semua siswa sependapat dengan rencana penghapusan ujian nasional. Ada pula yang memberikan penolakkannya. Contohnya adalah Nurhasanatun. Siswa yang bersekolah di SMA 5 Banda Aceh tersebut tidak setuju dengan rencana dari Nadiem Makarim. Nur berpendapat bahwa penghapusan UN bisa berdampak negatif terhadap semangat siswa.

“Soal penghapusan UN oleh Mendikbud saya tidak setuju. Karena UN sebagai penentu kelulusan dan ujian akhir bagi siswa. Agar siswa tidak menyepelekan pelajaran yang diterima selama bersekolah,” ujar Nur kepada saya.

Pendapat Nur ini tidak berbeda jauh dari mantan Wakil Presiden Indonesia, Jussuf Kalla. Menurut beliau, pengahpusan UN bisa membuat siswa-siswi jadi malas untuk belajar.

“Kalau tidak ada UN, semangat belajar akan turun. Itu pasti. Itu menjadikan kita suatu generasi lembek kalau tidak mau keras, tidak mau tegas bahwa mereka lulus atau tidak lulus,” ujar Jusuf Kalla saat diwawancarai  CNBC beberapa waktu lalu.

Pro kontra tentang penghapusan UN memang akan terus terjadi. Namun jika melihat langkah dan gerakan yang dilakukan Nadiem Makarim, pernghapusan UN tak lagi jadi wacana. Cepat atau lambat, penghapusan UN akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed