oleh

Membongkar Isu Penghapusan UN

 

Iqlima Urmila

Penulis  Iqlima Urmila – merupakan Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial , Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

BARANEWS ACEH.CO – Ujian Nasional (UN)di kabarkan akan dihapus dan diganti menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter mulai 2021. Selain itu, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) juga akan diganti,sebut pak Nadiem (mentri pendidikan sekarang). 2020 akan menjadi tahun terakhir pelaksanaan ujian nasional yang selalu menjadi “momok” siswa setiap tahun kelulusan.

Asesmen tersebut tidak dilakukan berdasarkan mata pelajaran atau penguasaan materi kurikulum seperti yang selama ini diterapkan dalam ujian nasional, melainkan melakukan pemetaan terhadap dua kompetensi minimum siswa, yakni: dalam hal literasi dan numerasi.

Literasi yang dimaksud bukan berarti menguji kemampuan membaca, kata Nadiem, tapi juga kemampuan menganalisis suatu bacaan serta memahami konsep di baliknya. Demikian juga uji kemampuan nalar numerasi bukanlah ujian pelajaran matematika, melainkan penekanannya lebih kepada kemampuan menganalisis menggunakan angka.

Sedangkan satu aspek uji lain, yakni Survei Karakter, menurut Nadiem, bukanlah sebuah tes. Aspek ini hanya berisi survei untuk menghimpun seberapa tahu siswa dengan kondisi sekitarnya dan dalam rangka menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter.

Namun dari ujaran beliau tersebut banyak memancing komentar dari netizen di jagat maya berita ini sempat viral karna ada beberapa yg tidak menyetujui tentang penghapusan UN tersebut.

Salah satu komentar yang paling tersorot adalah komentar dari bapak jusuf kalla,beliau memukakan bahwa  semangat belajar para siswa akan turun jika ujian nasional ditiadakan oleh Mendikbud Nadiem Makarim”.Bahkan, saya juga, generasi muda juga bisa menjadi lemah dan tak mau bekerja keras”. Menurutnya, itu bisa saja terjadi andai ujian nasional benar-benar ditiadakan.”Itu menjadikan kita suatu generasi lembek kalau tidak mau keras, tidak mau tegas bahwa mereka lulus atau tidak lulus. Akan menciptakan generasi muda yang lembek,” sebut beliau.

Dari pandangan beliau ini saya sih setuju,karna bisa dilihat dari bakat minat siswa milenial sekarang yang kebanyakan sudah berkurang minat belajarnya,nah apalagi kalau nanti ujian nasional akan di hapus pastinya murid-murud akan beranggapan kalau belajar itu bukanlah segalanya,tapi mereka lupa kalau segalanya butuh di pelajari.

Metode pendidikan ini sebenarnya suadah lama di isu-isu kan,kalau di lihat-lihat dari sudut pandang berbeda metode ini sangat melemahkan minat pelajar,dengan adanya UN para murid sangangat giat dan antusias untuk mengikuti pembelajaran,takutnya nanti kalau metode ini di terapkan,malah nantinya si murid itu cenderung diam dan tidak aktif di dalam mengikuti pembelajaran.

Tapi menurut saya rancangan pak Nadiem ini ada bagusnya sih,yang mana nanti nya para siswa akan di giring sesuai dengan alur bakat mereka. Nah di jepang sendiri sistim pendidikan seperti ini sudah lama di jalankan oleh mereka,para guru di himbau untuk mengetahui apa skill yang paling mencolok dari anak didik nya. Dan kemudian akan di memfokuskan si anak didik ke jalur yang sesuai dengan bakat yang dia miliki.

Di balik itu semua,kita ini dapat melihat dan membedakan sistim pembelajaran di Indonesia dan luar negri.di Indonesia pelajar kita dibimbing untuk harus dapat menguasai semua mata pelajaran yang ada,walaupun di kelas menengah atas itu sudah di bedakan antara ipa dan ips. Namun itu masih dalam jalur abstrak,kita belum bisa melihat kedepannya dia itu akan menggeluti atau menjadi apa nantinya.

Di sisi lain,menurut pandangan para pelajar ujian nasional di hapuskan itu bagaikan Indonesia yang sudah merdeka dari para penjajah. Para pelajar ini mengungkapkan bahwa soal-soal yang di UN-kan itu tidak semua nya pernah meraka pelajari,keterbatasan waktu untuk materi yang di ajarkan itu lah kendala mereka,maka dari itu lah banyak di antara mereka yang mengeluh karna nialai mereka yang tidak sesuai ekspetasi.maka dari itulah minat belajar mereka pun sudah berkurang.

Mungkin dengan adanya sistem yang baru dari Mentri Pendidikan sekarang di harapkan dapat mengubah minat belajar siswa dan dapat juga mengubah pola kinerja guru yang mungkin selama ini terlalu sulit bagi mereka. Memang tak semua murid dapat mencerna dengan cepat pembahasan materi yang telah di berikan oleh guru,namun setidak nya dengan metode baru ini para guru bisa membinmbing murid-muridnya agar menjadi jalon generasi yang produktif dan hebat kedepannya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed