oleh

Mencintai Buku, Mencintai Ilmu

Oleh: Suwanto

Mahasiswa Ilmu Perpustakaan

Fakultas Adab & Ilmu Budaya

UIN Sunan Kalijaga

 

Kemajuan teknologi saat ini rasanya belum cukup mampu menggantikan peran buku sebagai media utama pengetahuan. Banyak juga negara yang besar karena menghargai buku. Buku tak ubahnya sebagai guru bagi siapa saja. Oleh karenanya tidaklah heran jika buku dari zaman ke zaman tetaplah memiliki tempat istimewa bagi siapa saja, lebih-lebih bagi para pecandu ilmu.

Meski peran buku sangat penting. Namun, ada gejala dewasa ini yang tidak memprioritaskan atau menyepelekan. Minimnya waktu membaca dewasa ini rasanya rata terjadi hampir di semua kalangan, mulai dari orang awam, pelajar, dan mahasiswa. Kasus yang kerap terjadi, para pelajar lebih memilih bermain game daripada membaca buku. Kurikulum 2013 (K-13) yang digadang-gadang dapat berimbas pada meningkatnya budaya baca pun pada akhirnya sulit dan gagal diimplementasikan. Padahal, dalam K-13 siswa dituntut aktif untuk membaca buku dan mencari tahu ilmu pengetahuan secara mandiri.

Adapun di kalangan mahasiswa, membaca belum menjadi budaya yang menarik dan populer. Bahkan budaya membaca di tingkat mahasiswa ditengarai semakin menurun dari tahun ke tahun. Mereka lebih senang membaca pesan di medsos atau membaca update status daripada membaca buku.

Hal tersebut tentu sangat ironis, mengingat mahasiswa merupakan kaum intelektual mandiri yang wajib membaca guna menambah ilmunya. Hal ini bertambah miris tatkala merekan akan meneliti tugas akhir (skripsi), dimana mahasiswa kesulitan karena minimnya pengetahuan sebagai akibat dari jarangnya membaca buku. Kalau sudah begini, mereka baru sadar dan menyesal.

Di lingkungan masyarakat sendiri, membaca juga masih dianggap sebagai kegiatan sia-sia serta buang-buang waktu saja. Jarang sekali kampung atau desa yang memiliki Taman Baca Masyarakat (TBM). Kalaupun toh ada, sangat jarang dikunjungi alias sepi. Buku hadir dirak buku hanya sebagai pajangan, tetapi minat bacanya masih sangat kurang. Hal ini dapat kita lihat dari sepinya pengunjung took buku jika dibandingkan dengan mall atau pusat perbelanjaan. Bazar buku pun lebih sepi dibanding dengan bazar pakaian atau barang elektronik.

Sementara itu di lingkup pemerintah, yang seharusnya bertangungjawab mensejahterakan rakyatnya dan mendorong budaya baca penduduknya. Namun, selama ini pemerintah hanya menggembor-gemborkan tentang pentingnya minat baca, tetapi pemerintah sendiri belum mampu memberikan contoh nyata serta belum mampu membuat program untuk meningkatkan minat baca.

Meskipun pemerintah sadar pentingnya membaca, tapi selama ini perhatian dalam pengembangan perpustakaan masih kurang. Padahal untuk meningkatkan budaya baca, solusi strategisnya adalah dengan memajukan perpustakaan. UU No.43 Tahun 2007 Pasal 23 yang mengatur tentang anggaran perpustakaan sekolah minimal 5% pun banyak yang tidak melakukannya.

Butuh Kesadaran

Sejak TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi buku selalu menjadi kebutuhan  pokok bagi pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen. Selain itu buku juga sangat dibutuhkan di luar pendidikan formal. Dimanapun kita berada kebutuhan akan buku selalu lebih penting dibandingkan dengan media lain.

Buku selalu berperan apa saja sesuai dengan kebutuhan yang kita inginkan. Buku dapat menjadi guru, teman, motivator. Namun, keberadaanya, yang kini banyak dilupakan dan diabaikan yaitu peranan buku sebagai guru setiap waktu. Tentunya, buku berbeda dengan manusia yang menyandang predikat guru. Guru punya waktu hanya pada saat jam sekolah, jarang sekali punya waktu di luar jam sekolah. Sementara buku akan selalu ada kapan saja dan dimana saja.

Oleh karenanya, sudah saatnya bangsa ini sadar akan pentingnya membaca dengan berupaya untuk memajukan perpustakaan, sehingga harapannya akan berefek pada kemajuan. Sudah saatnya kita sadar untuk mencintai buku. Sebagai bangsa yang beradab kita harus senantiasa menghormati dan menghargainya. Karena berkat buku ilmu pengetahuan tetap terjaga dan kita rasakan hingga saat ini. Karena mencintai buku adalah juga mencintai ilmu.

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed