oleh

Minat Belajar Siswa Saat PJJ Tetap Lanjut!

Penulis : Aprilia Hidayana Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh

Diawal Maret 2020, masalah baru yang bermula muncul dikota Wuhan, Provinsi Hubei Tiongkok China, dikabarkan telah memasuki Indonesia. Corona virus (COVID-19) adalah Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 salah satu jenis virus yang bisa menyebabkan penderitanya terserang sistem pernafasan, infeksi paru paru yang berat hingga menyebabkan kematian. Menurut data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Republik Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi positif hingga 23 Oktober 2020 adalah 377.541 orang dengan jumlah kematian 12.959 orang. Tingkat kematian (case fatality rate) akibat COVID-19 adalah sekitar 3,4%. Dampak dari virus ini mengganggu semua sector bidang, salah satunya Pendidikan. Kebijakan pemerintah mengeluarkan Kebijakan social distancing untuk mengurangi penyebaran Virus ini malah berakibat fatal terhadap roda kehidupan masyarakat. Salahsatunya Ketidaksiapan sekolah untuk meliburkan dan mengubah system belajar menjadi pembelajaran jarak jauh dan hal yang bisa dilakukan dengan pemanfaatan teknologi. Namun, sebenarnya pemanfaatkan teknologi ini tetap menghambat efektivitas pembelajaran walaupun diawal kegiatan pembelajaran jarak jauh ini (PJJ/Daring) beberapa pelajar/orang tua/guru merasa senang karena sekolah dirumahkan sehingga bisa beraktifitas diluar/tidak sekolah bahkan ada yang menyempatkan berwisata dikondisi yang tanggap darurat ini. Pun begitu berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah.

  1. Keterbatasan sarana dan prasarana

Smartphone, laptop, kuota/pulsa atau alat pembelajaran lainnya yang digunakan pada system daring merupakan masalah baru bagi beberapa orangtua/siswa/guru yang ekonimonya kurang membantu. Ditengah pembelajaran daring seperti ini untuk pihak yang tidak memiliki alat penunjang akan mencari jalan ninja yaitu menumpang pada teman atau bahkan tidak mengikuti kegiatan belajar online. Selain itu pembelajaran jarak jauh membutuhkan jaringan yang stabil, namun tidak semua sekolah/pihak mempunya jaringan yang stabil karena dipengaruhi oleh letak geografis yang masih jauh dari sinyal.

  1. Penguasaan teknologi yang masih rendah

Para pengajar dan pelajar serta orang tua mengaalami aman yang berbeda, banyak guru dan orang tua yang pada masa mereka sebelumnya penggunaan teknologinya belum aktif. Pun begitu untuk sebagian pelajar, tidak semua dari mereka terbiasa mneggunakan teknologi.

  1. Ketidakdisiplinan mengikuti pembelajaran

Hal ini dialami semua pihak entah itu guru,siswa, orang tua, dosen,mahasiswa, dan pekerja dari rumah. Membiasakan belajar dari jauh/online cukup sulit karena berbagai factor gangguan dari rumah/kondisi lingkunga yang tidak kondusif, dan kebebesan untuk mengikuti pembelajaran dengan pakaian yang bebas, bangun tidur, sambil makan tiduran,dll

Semua pihak harus terbiasa dengan kondisi seperti ini karena kita tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Kabar baiknya Pemanfaatan teknologi seperti ini membwa kita keberadapan yang lebih maju lagi karena semua tidak lepas dari teknologi, oleh karena itu pemanfaatan teknologi sangat penting bagi masyarakat. Dari beberapa masalah yang ada ternyata pemerintah memberikan solusi yang sedikit membantu seperti subsisi bantuan kuota, bantuan beasiswa pendidikan, adanya kurikulum darurat hingga program belajar di televise dan hal lain yang sedang diusahakan pemerintah agar bisa belajar seperti biasa. Hingga saat ini setelah melewati masa awal kegiatan pembelajarann jarak jauh, libur semester hingga ajaran semester baru ternyata kegiatan Pembelajaran jarak jauh ini tetap berlangsung diberbagai daerah khususnya di kabupaten simalungun, provinsi Sumatera utara, Indonesia. Beberapa sekolah dizona hijau/sekolah berasrama/pesantren sudah memulai sekolah tatap muka dengan mematuhi protocol kesehatan.

Sudah terbiasa dengan kondisi pembelajaran jarak jauh, sudah saatnya kita memperhatikan bagaimana minat belajar siswa? memperhatikan agar siswa tetap semangat, tidak stress, menghindari beberapa kasus pelajar yang depresi dan bunuh diri karena belajar jarak jauh/daring.  Adapaun hal-hal yang perlu dipahami dan bisa dilakukan guru dan pihak sekolah dengan mengubah metode pembelajaran agar lebih aktif dengan memberikan kesempatan setiap siwa untuk berbicara dan memperlihatkan muka.(jika menggunakan aplikasi belajar yang bisa tatap muka), melakukan komunikasi kepada orang tua agar hubungan mengajar lebih baik, memerhatikan kebiasaan belajar siswa secara online serta menggetahui pekerjaan orang tua/wali siswa, memberi bahan yang bersifat inklusif agar siswa terbiasa menganalisi dan mengatasi ketidakjujuran siswa, tidak memberikan tugas yang begitu menuntut dan menupuk, Guru harus punya strategi pembelajaran yang sesuai dan sering melakukan Evaluasi terhadap pembelajarannya.

Untuk orang tua untuk tetap mengawasi siswa agar penggunaan bantuan kuota digunakan dengan baik, tidak untuk membuka konten negative. Mengajak anak/siswa untuk bermain sambil belajar dirumah. Orang tua punya peran lebih besar juga, orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak-anaknya. Orang tua dapat menemani anak mengikuti pembelajaran jarak jauh, membimbing anak-anaknya dalam mengerjakan tugas yang diberikan, dan dapat dimanfaatkan orangtua untuk menghabiskan waktu bersama anak karena anak lebih banyak dirumah, dimasa seperti ini rumah berfungsi sebagai sekolah juga dan orang tua sebagai guru jua.

Dan untuk pemerintah agar segera mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh yang lebih meningkat dan bisa direalisasikan disetiap daerah, dan memperhatikan perangkat pendukung untuk mengikuti kebijakannya. Setiap perubahan pasti punya sisi positif dan negative,  semua orang harus bisa mengikutinya karena apa yang telah terjadi semua adalah rencana baiknya Allah SWT. Dimasa transisi menuju Newnormal seperti ini, bukan berarti semua telah aman. Mari tetap mematuhi protocol kesehatan dan mendoakan pemerintah dan tenaga medis segera menemukan menerapkan pemberian vaksin sesegera mungkin dan bumi segera pulih, agar kita bisa beraktifitas sehat seperti biasa.

Oleh: Aprilia Hidayana, Mahasiswi  jurusan Teknik Sipil fakultas Teknik Universitas Malikussaleh yang sedang melaksanakan KKN Penulisan karya Pengabdian dibwah bimbingan  HARINAWATI, S.SOS.,M.A

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed