oleh

Pentingnya Meniru Sifat Dan Etika Kepemimpinan Harun Ar Rasyid Bagi Para Pemimpin

 

Sebelum dinobatkan sebagai khalifah, Harun ditunjuk ayahnya menjadi gubernur di As-Siafah tahun 779 M dan di Maghrib pada 780 M. Dua tahun setelah menjadi gubernur, sang ayah mengangkatnya sebagai putera mahkota untuk menjadi khalifah setelah saudaranya, Al-Hadi. Pada 14 Septempber 786 M, Harun Ar-Rasyid akhirnya menduduki tahta tertinggi di Dinasti Abbasiyah sebagai khalifah kelima.

Harun Ar-Rasyid berkuasa selama 23 tahun (786 M – 809 M). Selama dua dasawarsa itu, Harun Al-Rasyid mampu membawa dinasti yang dipimpinnya ke peuncak kejayaan. Ada banyak hal yang patut ditiru para pemimpin Islam di abad ke-21 ini dari sosok raja besar Muslim ini. Sebagai pemimpin, dia menjalin hubungan yang harmonis dengan para ulama, ahli hukum, penulis, qari, dan seniman.

Ia kerap mengundang para tokoh informal dan profesional itu keistana untuk mendiskusikan berbagai masalah. Harun Ar-Rasyid begitu menghagai setiap orang. Itulah salah satu yang membuat masyarakat dari berbagai golongan dan status amat menghormati, mengagumi, dan mencintainya. Harun Ar-Rasyid adalah pemimpin yang mengakar dan dekat dengan rakyatnya. Sebagai seorang pemimpin dan Muslim yang taat, Harun Ar-Rasyid sangat rajin beribadah. Konon, dia terbiasa menjalankan shalat sunat hingga seratus rakaat setiap harinya. Dua kali dalam setahun, khalifah kerap menunaikan ibadah haji dan umrah dengan berjalan kaki dari Baghdad ke Makkah. Ia tak pernah lupa mengajak para ulama ketika menunaikan rukun Islam kelima.

Jika sang khalifah tak berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji, maka dihajikannya sebanyak tiga ratus orang di Baghdad dengan biaya penuh dari istana. Masyarakat Baghdad merasakan dan menikmati suasana aman dan damai di masa pemerintahannya. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Harus Ar-Rasyid tak mengenal kompromi dengan korupsi yang merugikan rakyat. Sekalipun yang berlaku korup itu adalah orang yang dekat dan banyak berpengaruh dalam hidupnya. Tanpa ragu-ragu Harun Ar- Rasyid memecat dan memenjarakan Yahya bin Khalid yang diangkatnya sebagai perdana menteri (wazir).

Harun pun menyita dan mengembalikan harta Yahya senilai 30,87 juta dinar hasil korupsi ke kas negara. Dengan begitu, pemerintahan yang dipimpinnya bisa terbebas dari korupsi yang bisa menyengsarakan rakyatnya. Pemerintahan yang bersih dari korupsi menjadi komitmennya. Konon, Harun Ar-Rasyid adalah khalifah yang berprawakan tinggi, bekulit putih, dan tampan. Di masa kepemimpinannya, Abbasiyah menguasai wilayah kekuasaan yang terbentang luas dari daerah-daerah di Laut Tengah di sebelah Barat hingga ke India di sebelah Timur. Meski begitu, tak mudah bagi Harun Ar-Rasyid untuk menjaga keutuhan wilayah yang dikuasainya.

Dari sekilah kisah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid di atas dapat kita ambil simpulkan bahwa penanam komitmen dalam menjalankan suatu amanah merupakan hal terpenting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Hal tersebut dapat saya simpulkan setelah meninjau dan melihat kurangnya komitmen yang dipegang oleh para pemimpin kita saat ini sehingga sering kali terjadinya masalah dalam Negara. Ketika seseorang sudah berkomitmen, dia tidak akan melakukan hal-hal yang akan merusak komintennya sehingga akan menimbulkan masalah dalam apa yang sedang dia lakukan. Oleh karena itu sekiranya para pemimpin Negara dan pemerintah saat ini dapat meniru etika harun ar-rasyid dalam memimpin yaitu : berkomitmen kepada diri sendiri untuk amanah dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin, memberantas perbuatan korupsi tanpa memandang hubungan darah maupun teman dekat, juga mementingkan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi.

Dengan begitu rakyat dapat merasakan kembali kedamaian hidup bermasyarakat di bawah pengawasan pemimpin yang arif dan bijaksana. Sehingga public trust yang saat ini kita lihat mulai turun dengan dilihat dari  kepercayaan masyarakat kepada para pemimpin mereka karena di anggap sewenang-wenang dalam menjalankan amanah dengan menggunakan kekuasaan yang telah rakyat berikan dengan sesuka hati tanpa mengedepankan keinginan dan kebutuhan rakyat dapat perlahan-lahan atau bahkan kembali seutuhnya. Dan tujuan dari sebuah negara pun dapat terwujud yang salah satunya merupakan kedamaian penduduk negara tersebut.

 

Sumber :

[1] Sumbar.kemenag.go.id. 2014, 30 juni. ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM (Kajian Diklat Kepemimpinan Kepala KUA di Bdk Padang) Oleh: Drs. H. Eldison., M.Pd.I. ditulis oleh RinaRisna. Diakses pada 2020,04 November di https://sumbar.kemenag.go.id/v2/post/1505/etika-kepemimpinan-dalam-islam.html

[2] Republika.co.id. 2020,30 Juli. Mengenal Khalifah Harun Ar Rasyid (1). Penulis Heri Ruslan Red: Muhammad Hafil. Diakses pada 2020, 04 November di https://m.republika.co.id/amp/qe7xni430

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed